Pesan Alma di Akhir 2025
Membaca kembali laman demi laman blog ini. Mengingatkan kita pada Alma yang masih ambisius mengejar impiannya. Alma yang belum mengenal rasanya mental breakdown. Alma yang penuh semangat, penuh ambisi dan jujur pada dirinya sendiri.
***
Kenalan yuk, dengan Alma di penghujung tahun 2025.
Alma di tahun 2015 hingga 2017 aktif mencari kesempatan menjelajah dunia lewat program pertukaran pelajar/pemuda bebas biaya. Sayang, Alma di periode tahun 2025 merasa impian itu semakin jauh. Kabar baiknya, di bulan Oktober 2025 lalu dia coba hidupkan lagi semangatnya, lewat Postcrossing. Bertukar kartu pos dengan orang asing di belahan dunia yang lain. Sambil berharap, suatu saat ia akan menginjakkan kakinya di tempat itu, menyusul kartu pos yang ia kirim. Postcrossing membantu Alma menyalakan kembali semangatnya yang redup.
Alma di 2014 hingga 2016 bisa dengan percaya diri berbangga atas pencapaiannya. Sayang, rasa percaya diri dan bangga Alma di 2017 hancur lebur oleh sebuah pertanyaan paling menyakitkan yang pernah dilontarkan orang yang paling ingin ia buat bangga.
"prestasi yang mana, kak?"
Padahal, pada kurun waktu itu Alma punya pencapaian yang tidak semua orang di sekitarnya bisa. Menjadi mahasiswa sekaligus 'jurnalis' Radio Muhammadiyah (RadioMu). Bertugas di berbagai kota tanpa mengeluarkan biaya akomodasi sepeserpun dari kantong pribadinya. Menulis berita di ipm.or.id dan diutus ke berbagai penjuru Indonesia tanpa biaya sedikitpun dari kantong orang tuanya. Bahkan seskali pulang dengan uang saku tambahan.
Alma di 2017 melepas mimpinya untuk bisa studi keluar negeri. Melepas impiannya untuk bisa seperti Mbak Roro, pelatih debat sekaligus alumni kebanggaannya, yang dengan keahliannya bisa menginjakkan kaki ke berbagai penjuru dunia.
Alma di 2017 dengan berat hati melepas impiannya mengikuti jejak Mbak Roro. Alma tidak bisa bergabung dengan Organisasi apapun dengan tenang di kampus, tanpa dihantui cecaran dari orang tuanya, dipertanyakan keberadaannya, meskipun waktu baru menunjuukan pukul 6 sore. Tidak terkecuali komunitas bahasa kampus, tempat Mbak Roro memulai.
Alma di tahun 2025 masih membawa luka itu. Sampai hari ini, pertanyaan itu masih menghantuinya. Alma di tahun 2017 dan seterusnya tidak lagi mengejar angan-angan terlalu berkilau. Alma tidak lagi merasa perlu meraih itu, karena toh bagi 'orang itu' pencapaian Alma tidak ada artinya.
Sampai hari ini, Alma masih sering menangis. Merasa bersalah pada Alma di tahun 2015. Ia merasa belum bisa menjadi sosok Alma masa depan yang diimpikan Alma di tahun 2015.
Alma di 2025 banyak menangis. Meski tidak lagi menangis karena sulit bergaul dan berteman seperti Alma di tahun 2013. Alma yang digagalkan upayanya menjadi peserta pertukaran pelajar oleh guru BK nya sendiri di tahun 2014, yang begitu kejam menuliskan poin-poin kekurangan dalam diri Alma pada surat referensi kepada pihak penyelenggara.
Alma di 2016 tidak pernah membayangkan akan lulus kuliah pada tahun 2023, bukan 2020, sebagaimana idelanya mahasiswa baru 2016. Alma yang memulai masa kuliah dengan cemerlang, penuh optimisme dan semangat mencari ilmu, harus menyelesaikan kuliah tahun 2023 dengan seadanya tanpa idealisme. Hasil kerja yang tidak akan diterima Alma di tahun 2016.
Alma di tahun 2025 mungkin sudah lupa rasanya menggoreskan kkuas dan pena di kertas ataupun kanvas. Ia hanya bisa berdecak kagum memandangi deretan alat lukis di seksi Arts Suplies setiap mengunjungi toko. Peralatan lukis yang dikumpulkan Alma sejak 2014 sudah tidak terlihat jejaknya. Koleksi yang ia beli dengan uang hasil memenangkan lomba Kaligrafi. Koleksi kuas yang ia pilih sendiri sebagaimana kebutuhannya.
Alma di tahun 2025 penuh kebingungan. Berbeda dengan Alma di tahun 2016 yang penuh determinasi. Tahu betul jalan mana yang ingin dia pilih. Sungguh, Alma di 2025 sangat mengagumi Alma di tahun 2014-2017.
Kini, di penghujung tahun 2025, Alma ingin menemukan kembali bagian diri Alma yang pernah ada. Alma ingin kembali percaya diri. Yakin dengan jalan yang ia pilih. Penuh tekad mengejar apa yang diimpikan. Alma yang yakin jika orang lain bisa, dia pun bisa.
Satu dekade sejak 2015. Alma ingin memulai tahun 2026 dengan semangat baru. Alma yang berapi-api. Alma yang tahu apa yang diinginkan. Alma di penghujung tahun 2025 berharap, bisa mewujudkan setiap impian yang pernah dibayangkannya. Alma harus bangkit dan berdiri di atas kakinya sendiri. Memperbaiki apa yang belum baik. Merapihkan apa yang sebelumnya berantakan.
Alma di penghujung tahun 2025 mengucapkan banyak terima kasih untuk Alma di tahun 2014-2015 yang sudah meninggalkan jejak. Mengingatkan Alma di tahun 2025, begitu ia bersinar di tahun-tahun itu.
***
Menutup tulisan ini, Alma di 2025 harap tulisan ini mampu menjadi pelipur lara. Meyakinkan Alma di tahun 2014-2016 bahwa impiannya belum mati, ia hanya meredup.
Sebagaimana bintang di langit, ketika mencapai keterangan maksimum, ia akan meledak. Meski butuh waktu sangat lama, sisa ledakannya akan mampu menghasilkan bintang baru yang akan kembali bersinar.
![]() |
| Foto: Istockphoto/coffeekai/Ledakan Bintang di Galaksi. (Sumber) |

Komentar
Posting Komentar