Tentang Waktu dan Kesabaran

Berdiri di bus sepulang bekerja, Alma sempatkan menilik kembali buku pinjamannya di aplikasi iPusnas. Bosan dengan lini masa media sosial yang terlalu cepat. Tenggelam dalam bacaan, lalu hampir melewatkan titik pemberhentiannya. Tepat saat itu, ada hal yang dia sadari:

***

Melihat kembali beberapa bulan ke belakang, Alma menyadari bahwa waktu yang dihabiskan sudah terlampau banyak hanya media sosial. Pengetahuan yang didapatnya tidak seberapa banyak dibandingkan waktu yang habis untuk berselancar melihat apa lagi yang akan muncul di tiap usapan jarinya. Berapa banyak kesmepatan hilang dari doom scroll di tengah malam. Berakhir dengan badan terlampau lelah dan sangat dekat dengan waktu terbitnya matahari.

Alma lalu berlakukan alarm kesehatan digital untuk membatasi diri. Berupaya menahan diri tidak bergantung pada media sosial. Coba mengalihkan perhatian pada aplikasi membaca buku seperti iPusnas dan PYC Digital Library. Melatih ketahanan diri fokus pada visual yang monoton pada waktu yang lama. Menambah pengetahuan lewat buku.

Faktanya, membaca buku tidak memakan waktu selama ini. Dengan durasi yang sama untuk berselancar di media sosial, Alma bisa habiskan hingga 1/4 buku. 

Refleksi Alma tidak berhenti di situ. Saat menati driver ojek online pesanannya, Alma semakin menyadari bagaimana waktu sungguh berlalu dengan cepat saat kita tidak menyadarinya. Tetapi waktu akan berjalan seakan sangat lambat jika kita menantikan tiap pergantian waktunya. Semakin kita sadar kehadiran waktu, semakin kita bisa menghargainya lebih baik. Memanfaatkan setiap detiknya dengan makna. 

Sore tadi, Alma menantikan kedatangan ojek online pesanannya. Pada aplikasi, posisi ojek sangat dekat dan hanya terpisah oleh belokan. Alma sangat mematikan kedatangan ojek tersebut. Melihat posisinya, Alma memperkirakan kedatangan ojek tidak akan lama. Mungkin tidak sampai 2 menit untuk menyalakan kendaraan dan bergerak. Namun, berangkat dari asumsi waktu kedatangan itu waktu yang tidak sampai 3 menit terasa sangat lama bagi Alma. Jika tidak memperhatikan kembali penanda waktu di ruang chat, mungkin Alma akan mulai hujani pertanyaan kepada ojek tersebut, mempertanyakan "kenapa lama sekali?"

"semakin kita menantikan sesuatu, semakin kita tipis kesabaran kita akan kedatangannya"

***

Siapa sangka, membaca buku di bus dan menantikan ojek online dapat memunculkan refleksi seperti ini. Mungkin ada benarnya, membaca (buku) membuka pikiran. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajadah Ego?

Pesan Alma di Akhir 2025

Konstruksi Sosial Adalah Racun